Selasa, 22 Maret 2011

Kewajiban Manusia Terhadap Diri Sendiri

Manusia memiliki dua unsur utama yakni jasmani dan rohani; kewajibannyapun harus memenuhi semua kebutuhan dua unsur ini. Jasmani adalah tubiuh atau jasad yang terlihat ini; sedangkan rohani adalah unsur yang tidak terlihat; seperti akal, hati nurani dan nafsu.
1. Kewajiban terhadap Jasmani :
    a. Makan dan minum yang halal dan baik  ( halaalan thayyiban )secara secukupnya dan teratur.
    b. Istirahat atau tidur secukupnya secara teratur.
    c. Memelihara kebersihan dan kesehatan badan.
    d. Minum obat atau berobat ketika sakit.
    e. Berpakaian dan menutup aurat secara benar.
    f. Menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat merusak atau menyebabkan badan/jasmani menjadi sakit.
    g. Menggunakan anggota badan dan panca indra secara benar sesuai ketentuan syariat Islam dan ridla
        Allah.
    h. Menghiasi diri dengan perilaku atau akhlak yang mulia.
2. Kewajiban terhadap rohani :
    a. Kewajiban terhadap akal
        - Memenuhi kebutuhan akal berupa agama Islam dan ilmu-ilmu lain yang bermanfaat serta dibenarkan
           menurut syariat Islam.
        - Memelihara dan menggunakan akal secara benar.
        - Menggunakan akal untuk memikirkan atau mentafakkuri kekuasaan Allah guna menambah keimanan.
    b. Kewajiban tgerhadap hati nurani
        - Memelihara kebeningan hati nurani dengan senantiasa mengisi dan menyiraminya dengan ilmui-ilmu
          agama Islam.
        - Memelihara kebeningan hati nurani dengan senantiasa mengikuti dan mengamalkan ajaran Islam.
        - Menghindarkan hati nurani dari bisikan setan dan penyakit-penyakit hati, seperti : iri, dengki, dan riya.
    c. Kewajiban terhadap nafsu
        - Memaksimalkan potensi nafsu rubbubiyah atau ilahiyyah dalam diri kita, misalnya keinginan untuk
          senanrtiasa beribadah secara ikhlas, zuhud, tawadlu', dan sebagainya.
        - Mengoptimalkan atau mengendalikan potensi bafsu insaniyah, misalnya : makan, minum, dan istirahat
           secukupnya.
        - Meminimalkan dan menghilangkan potensi nafsu syaithaniyah misalnya : keinginan untuk dipuji,
           khianat, dan takabbur.
 diambil dari " Fikih Pendidikan ". Drs. Heri Jauhari Mukhtar.
catatan :  - tulisan ini untuk mengingatkan penulis sendiri
              - kepada pembaca yang budiman, mohon beri tahu saya bagaimana cara memindahkan tulisan dari
                 file (istilahnya apa saya tidak tahu ) ke blog saya.
              - terima kasih kepada siapa saja yang membantu saya.
             
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar